<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388</id><updated>2011-09-14T06:20:33.371-07:00</updated><category term='Wacih Kurnaesih'/><category term='Didi Tarsidi'/><title type='text'>Didi Tarsidi: As They See It</title><subtitle type='html'>Bagaimana pandangan orang tentang kami? &lt;br&gt;Apa yang ditulis di media massa tentang kami?</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-2020882363012014472</id><published>2008-05-12T19:53:00.000-07:00</published><updated>2008-05-12T19:57:20.882-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Didi Tarsidi'/><title type='text'>Didi Tarsidi, "Sekarang Jauh Lebih Baik"</title><content type='html'>Oleh Joko Pambudi&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&amp;id=22104"&gt;Pikiran Rakyat - Minggu, 11 Mei 2008&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I view blindness just as another characteristic of one`s personal dimensions. Just like with any other undesirable characteristic (such as being too tall&lt;br /&gt;or too short), at times one has to do things differently to meet environmental challenges without sight. Many blind individuals (and most other members&lt;br /&gt;of the society alike) need counseling to be able to understand and embrace this point of view. This blog is dedicated to change what it means to be blind."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian bunyi kalimat yang tertera di halaman blog, d-tarsidi.blogspot.com. Sejumlah kalimat yang menunjukkan bagaimana sudut pandang ketunanetraan. Lebih&lt;br /&gt;jauh lagi, kalimat tersebut merupakan refleksi pengalaman hidup seorang tunanetra, sang pembuat blog, Didi Tarsidi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didi, kelahiran Sumedang 1 Juni 1951, merupakan anak ketiga dari lima bersaudara putra pasangan petani. Sejak usia lima tahun, dia mengalami gangguan penglihatan.&lt;br /&gt;Pada usia 10 tahun, gangguan tersebut berubah menjadi kebutaan total. Kendati demikian, kondisi tersebut tak membuatnya patah semangat untuk menimba ilmu.&lt;br /&gt;Didi berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya di SLBN-A Bandung. Kemudian dia melanjutkan pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris di Universitas Pendidikan&lt;br /&gt;Indonesia (UPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia pendidikan memang sangat erat kaitannya dengan kehidupan Didi. Saat ini dia tengah menyelesaikan program doktor bidang Bimbingan dan Konseling Anak&lt;br /&gt;Berkebutuhan Khusus di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). "Mudah-mudahan disertasinya selesai tahun ini," ujar Didi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Didi mengisi aktivitas kesehariannya sebagai dosen tetap di Pendidikan Luar Biasa UPI Bandung. Aktivitas organisasi, sejak 1994, Didi juga dipilih&lt;br /&gt;menjadi Ketua Umum Perhimpunan Tunanetra Indonesia (Pertuni), sebuah lembaga yang beranggotakan sekitar 12.000 tunanetra. Dengan kemampuan bahasa Inggris&lt;br /&gt;dan pengalaman organisasi yang dimilikinya, Didi berkesempatan keliling Indonesia. Dalam perannya sebagai penerjemah, dia bahkan telah mengalami sejumlah&lt;br /&gt;perjalanan ke luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang tunanetra, Didi mampu membuktikan bahwa ketunanetraan tak harus membuat seseorang menutup diri dari perkembangan informasi dan teknologi.&lt;br /&gt;Keseharian Didi kini tak lepas dari komputer jinjing (laptop). Sejumlah perangkat lunak (software) pendukung, seperti Jaws, membantu Didi dalam mengoperasikan&lt;br /&gt;komputer tersebut. Dengan perangkat yang sama, Didi aktif menjelajah dan meramaikan dunia maya. Cara itulah yang dia tempuh untuk membuka mata, melihat,&lt;br /&gt;dan memaknai perkembangan dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didi Tarsidi hidup bersama sang istri, Wacih Kurnaesih (54), beserta kedua anaknya, Tommi Rinaldi (25) dan Sendy Nugraha (23). Dengan keramahan dan kearifan&lt;br /&gt;yang dimilikinya, Didi berbagi pengalaman untuk orang-orang di sekitarnya. Berikut petikan wawancara "PR" dengan Didi Tarsidi ketika ditemui di sela-sela&lt;br /&gt;kesibukannya di UPI, Rabu (7/5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat riwayat pendidikan Anda yang cukup panjang, kesulitan apa yang dialami selama menjalani pendidikan sebagai seorang tunanetra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya tidak ada kesulitan yang tidak bisa diatasi. Tetapi, kesulitan itu faktornya bervariasi dan bisa khas untuk orang-orang tertentu, seperti saya.&lt;br /&gt;Pendidikan dasar saya kan di SLB, dengan asumsi semua kebutuhan difasilitasi. Pendidikan dasar tidak menemui banyak kesulitan. Tetapi ketika mulai bersekolah&lt;br /&gt;di sekolah umum, terutama di perguruan tinggi, lingkungan pendidikan saya sangat berbeda dengan pendidikan sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bersekolah di sekolah umum, inklusif, hanya satu-satunya tunanetra dari 40 orang mahasiswa bahasa Inggris, dan satu dari tiga mahasiswa tunanetra di&lt;br /&gt;IKIP (sekarang UPI). Kesulitan pertama adalah akses bahan bacaan. Saya hanya bisa membaca braille waktu itu, sedangkan materi semuanya tidak dalam bentuk&lt;br /&gt;braille. Cara mengatasinya adalah saya bergantung kepada pembaca, biasanya volunteer. Ketika mereka membacakan, saya menulis dalam braille, atau saya rekam.&lt;br /&gt;Waktu tahun ’75-an, recorder masih barang mewah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kesulitan yang sama dialami ketika S-2?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitannya sama, tetapi derajat kesulitannya beda. Ketika saya mulai kuliah S-2, tahun 2000, tidak punya akses ke bahan bacaan. Tetapi, cara mengatasinya&lt;br /&gt;lebih mudah. Ketika itu saya sudah mengenal teknologi komputer, termasuk scanning. Jadi bahan bacaan saya scan ke dalam komputer, lalu diedit dan disimpan.&lt;br /&gt;Bentuk akses lainnya internet. Tahun ’75-an teman-teman yang awas pun kesulitan akses internet. Tahun 2000-an, ketika saya tidak punya buku, saya bisa&lt;br /&gt;cari ke internet. Apalagi keuntungan saya adalah saya menguasai bahasa Inggris, sehingga tidak terbatas oleh bahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana cara Anda beradaptasi dengan lingkungan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kesulitan berikutnya memang soal orientasi dan mobilitas, bagaimana saya bisa mengenal lingkungan, beradaptasi dalam lingkungan baru. Itu permasalahan&lt;br /&gt;yang dialami setiap tunanetra ketika dihadapkan dengan lingkungan baru. Untuk beradaptasi perlu pengalaman dan latihan. Waktu itu belum ada pelayanan khusus&lt;br /&gt;untuk orientasi mahasiswa tunanetra. Jadi, sedikit demi sedikit saya beradaptasi dengan bantuan teman-teman. Alhamdulillah saya tidak melihat orang-orang&lt;br /&gt;yang tidak peduli. Saya memang pernah kejeblos parit, sering juga kejedot truk yang parkir. Tetapi menurut saya itu bukan kendala, hanya ketidaknyamanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama menjadi tunanetra, apakah Anda sering mengalami perlakuan yang tidak menyenangkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan paling tidak nyaman, sebutlah sakit hati, adalah ketika didiskriminasikan. Ketika orang lain punya kesempatan, sementara saya tidak diberi kesempatan&lt;br /&gt;itu. Padahal saya tahu saya bisa. Dan banyak tunanetra mengalami pengalaman seperti itu. Contoh saja, kalau mau menggunakan jasa penerbangan, saya harus&lt;br /&gt;melalui prosedur yang tidak diharuskan kepada penumpang lain, yaitu menandatangani surat pernyataan tidak akan menuntut jika terjadi kecelakaan di pesawat.&lt;br /&gt;Itu sebenarnya surat yang harus ditandatangani orang sakit. Banyak orang yang tidak bisa membedakan cacat dengan sakit. Dan mendapat perlakuan seperti&lt;br /&gt;itu sangat tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan seperti itu terjadi di luar atau di dalam negeri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira di seluruh dunia. Tetapi gradasi tingkatannya berbeda-beda. Untuk diskriminasi ini, saya melihat bahwa semakin tinggi peradaban suatu negara,&lt;br /&gt;semakin rendah tingkat diskriminasinya terhadap penyandang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di Indonesia, bagaimana Anda menilai diskriminasi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih sangat kental. Tetapi saya melihat tingkat diskriminasi tersebut cenderung menurun, sangat berbeda dibandingkan dengan 20 tahun lalu. Sekarang jauh&lt;br /&gt;lebih baik keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Anda menilai akses pendidikan Indonesia bagi tunanetra saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang lebih mudah. Apalagi sekarang pemerintah menggalakkan pendidikan inklusif. Bahkan banyak peraturan pemerintah yang mewajibkan sekolah umum untuk&lt;br /&gt;menerima orang cacat. Dulu saya harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan kesempatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan akses pekerjaan bagi tunanetra?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin lebih baik dari 20 atau 30 tahun lalu. Tetapi perkembangannya tidak sebaik kesempatan pendidikan. Kesempatan pendidikan berkembang dengan baik,&lt;br /&gt;sementara kesempatan kerja bergeser sedikit saja. Sekarang orang masih punya persepsi bahwa tunanetra hanya jadi juru pijat. Ketika ada tunanetra yang&lt;br /&gt;bisa menjadi dosen atau menggunakan komposer, dianggap sebagai kekecualian, sesuatu yang ajaib. Padahal seharusnya dipandang sebagai sesuatu yang normal.&lt;br /&gt;Kalau diberi kesempatan yang sama, semua orang mungkin bisa mencapai yang sama juga. Namun, kesempatan kerja juga kan dipengaruhi oleh dua belah pihak.&lt;br /&gt;Tunanetranya harus diberi pendidikan dan keterampilan yang tepat yang bisa menunjang dunia kerja. Di pihak lain, harus ada kesempatan untuk memberi pekerjaan&lt;br /&gt;kepada tunanetra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah sejak kecil Anda memang tertarik menjadi guru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dibesarkan di dalam keluarga yang menghormati guru. Jadi, sejak kecil diberi image bahwa guru itu adalah orang yang perlu dihormati, pekerjaan yang&lt;br /&gt;baik, mulia, jadi sejak kecil saya sudah bercita-cita menjadi guru. Orang tua saya petani, tetapi mereka menghargai guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hal yang sama Anda lakukan juga dalam mendidik anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, memang saya tidak pernah mengatakan langsung kepada anak saya untuk menghargai guru. Kedua anak saya memang tidak menjadi guru. Meskipun tidak secara&lt;br /&gt;langsung mengajarkan itu, cara terbaik mendidik anak adalah menjadi contoh. Ketika kita menginginkan anak menghormati kita, maka kita harus berbuat sesuatu&lt;br /&gt;yang bisa dihormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana awal ketertarikan terhadap bahasa Inggris?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu waktu di asrama Wyata Guna, saya sekamar dengan teman yang dua atau tiga kelas lebih tinggi tingkatannya. Waktu itu saya kelas enam, dia SMP. Dia sudah&lt;br /&gt;mulai belajar buku bahasa Inggris, jadi di kamar ada buku bahasa Inggris. Saya tertarik untuk membaca. Kalau ada yang saya tidak pahami, saya tanya sama&lt;br /&gt;dia. Lalu ketertarikan itu berkembang dan menjadikan pembaca buku. Selera musik saya juga sebetulnya musik Barat. Selain senang mendengarkan dan menyanyikannya,&lt;br /&gt;saya juga ingin memahami apa arti lagu itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan bimbingan dan konseling anak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dilatarbelakangi oleh pekerjaan saya. Saya mula-mula bekerja di SGPLB (Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa). Lalu pindah ke Pendidikan Luar Biasa (PLB).&lt;br /&gt;Saya merasa ketika bicara PLB, secara substansi mungkin saya menguasai, tetapi secara disiplin keilmuan, saya berada di luar pagar, dan saya harus masuk.&lt;br /&gt;Studi PLB kebetulan masuk ke dalam kajian bimbingan dan konseling. Menurut saya, bimbingan konseling ditambah pengetahuan ke-PLB-an, menjadi alat efektif&lt;br /&gt;untuk mengubah persepsi tentang tunanetra dan penyandang cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya secara umum Anda menilai citra tunanetra di Indonesia itu seperti apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Citra itu sangat bervariasi. Dari citra sebagaimana yang tergambar di perempatan jalan, sampai yang punya persepsi orang tunanetra itu hebat dan perlu dikagumi.&lt;br /&gt;Nah, kedua ekstrem itu tidak baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana pencitraan tunanetra yang ideal menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang baik adalah yang memandang tunanetra sebagai individu yang punya berbagai macam kemungkinan. Tidak ada individu yang persis sama. Dalam blog saya,&lt;br /&gt;ada satu statement yang saya pikir harus dibaca dan dipahami semua orang. Saya memandang ketunanetraan saya tidak lebih dari sekadar salah satu karakteristik&lt;br /&gt;pribadi saya. Sebagaimana karakteristik orang yang tidak ideal, misalnya terlalu gemuk terlalu tinggi, maka dia harus berbuat sesuatu untuk bisa memenuhi&lt;br /&gt;tuntutan lingkungan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang merasa terlalu tinggi, ketika melewati pintu yang terlalu pendek, dia akan merunduk. Saya juga begitu. Ketika saya tidak melihat, lalu tidak&lt;br /&gt;bisa mendeteksi lingkungan dengan indra saya, maka saya harus menggunakan tongkat. Jadi tongkat bagi saya sama seperti orang yang merunduk ketika melewati&lt;br /&gt;tempat yang terlalu tinggi. Atau saya harus menggunakan braille. Bagi saya kadarnya sama seperti orang yang menggunakan kacamata minus untuk membaca. Atau&lt;br /&gt;seperti orang cantik yang menggunakan kosmetik untuk terlihat lebih cantik. (Joko Pambudi)***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;© 2007 - Pikiran Rakyat Bandung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-2020882363012014472?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/2020882363012014472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=2020882363012014472' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/2020882363012014472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/2020882363012014472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/05/didi-tarsidi-sekarang-jauh-lebih-baik.html' title='Didi Tarsidi, &quot;Sekarang Jauh Lebih Baik&quot;'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-5070103901443366119</id><published>2008-03-14T21:12:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T21:13:45.140-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacih Kurnaesih'/><title type='text'>Wacih Kurnaesih Menulis dengan Rasa</title><content type='html'>Oleh Yenti Aprianti, Kompas, 14 November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak pernah tahu bagaimana warna hijau pada lumut. Namun, jika diminta mendeskripsikan lumut, ia bisa menceritakan kelembutan lumut yang menempel pada&lt;br /&gt;batu. Ia tak melihat bentuk air, tetapi ia berkisah tentang rasa sejuk yang merayap di atas kepala dengan detail. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil ia dikaruniai penglihatan minim sehingga hanya mampu menangkap seberkas bayangan, tetapi perasaan dia mampu melihat lebih dalam tentang sesuatu&lt;br /&gt;di sekitarnya. Inilah yang menjadi modal Wacih Kurnaesih (53) sebagai penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak muda Wacih menulis apa saja yang ia alami dan rasakan. Pada tahun 2003 ia menjadi juara dalam lomba esai penulisan tentang manfaat huruf braille&lt;br /&gt;Bagi tunanetra se-Asia Pasifik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tunanetra yang gemar menulis dan membaca, Wacih sangat akrab dengan aksara braille. Apalagi sebagai guru Bahasa Indonesia, ia nyaris menyentuh&lt;br /&gt;Braille setiap hari dan mengajarkannya kepada murid-murid di Sekolah Luar Biasa A Negeri Bandung, Jalan Padjadjaran, Kota Bandung, Jawa Barat, sejak 27 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada esai yang ditulisnya, Wacih bercerita dengan bersemangat tentang bagaimana braille membantunya memperluas wawasan tentang dunia, juga membantunya&lt;br /&gt;Menyediakan makanan buat keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di awal pernikahan saya menempelkan tulisan beraksara braille pada semua wadah bumbu di dapur agar tak salah memasukkan bahan yang dibutuhkan," kata Wacih&lt;br /&gt;yang setelah bertahun-tahun berkeluarga hafal wadah-wadah bumbu di dapur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Braille menjadi penanda yang memudahkan aktivitas para tunanetra. "Braille adalah aksara yang lahir dari sebuah budaya yang sejarahnya sangat panjang.&lt;br /&gt;Sepanjang kisah tentang manfaatnya. Itu sebabnya braille harus dilestarikan," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpisah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenalan dengan braille dimulai saat dia berusia tujuh tahun. Wacih dilahirkan di Desa Dayeuh Luhur, kawasan wisata ziarah di Kabupaten Sumedang, Jawa&lt;br /&gt;Barat. Ia anak ketujuh dari sembilan bersaudara. Sejak lahir Wacih mengalami low vision atau keterbatasan penglihatan. Namun, seperti pada tunanetra lain,&lt;br /&gt;ia dikaruniai ketajaman rasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kelebihan itu, ia tak memiliki kendala mengenali keluarga dan lingkungan. Ia tetap bisa bermain di luar rumah dengan teman sebaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saya main dekat kolam atau sungai, Ibu selalu melarang," kata anak petani tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacih diperlakukan sama dengan saudara-saudara yang dapat melihat. Sejak kecil ia sudah tertarik membaca. Sebagian besar saudaranya lelaki dan suka membaca&lt;br /&gt;buku cerita persilatan, Wacih pun turut membaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika usia saya tujuh tahun, orangtua mendengar cerita tentang sekolah khusus bagi tunanetra di Bina Netra Wyata Guna, Bandung." Jadilah sejak saat itu&lt;br /&gt;Wacih tinggal terpisah dari keluarga dan tinggal di asrama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal jauh dari keluarga tak masalah baginya sebab setelah bisa membaca dan menulis, ia jadi makin suka membaca buku cerita beraksara braille. "Waktu&lt;br /&gt;saya kecil, buku cerita braille sangat banyak dan beragam pilihannya," kenangnya sambil menyebutkan salah satu buku favoritnya, Rumah dan Taman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kelas Wacih pun senang menulis cerita. Guru dan teman-teman senang membaca tulisan dia. Ia melanjutkan belajar di sekolah pendidikan guru di Bandung.&lt;br /&gt;Di sekolah umum tersebut ia sering diminta mengisi majalah dinding sekolah dan berbagai majalah lokal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Guru saya, Bu Murtilah, menyarankan agar saya kuliah ke jurusan Bahasa Indonesia," cerita Wacih. Saran itu diikutinya. Tahun 1978 ia melanjutkan pendidikan&lt;br /&gt;ke jenjang sarjana muda di Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung yang kini berganti nama menjadi Universitas Pendidikan Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di perguruan tinggi pun banyak teman Wacih yang menyukai tulisannya. Dosennya memuji kemampuan dia mengungkapkan kesejukan embun di kepala, yang katanya,&lt;br /&gt;tak mungkin dibuat penulis yang dapat melihat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu di asrama &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang hidup, ia menjuarai berbagai perlombaan menulis, antara lain penulisan lokal sastra untuk anak-anak yang diselenggarakan Departemen Pendidikan&lt;br /&gt;dan Kebudayaan tahun 1983 dan tahun 1986. Karena selalu juara, Wacih sampai tak diizinkan lagi ikut lomba menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia lebih banyak menjadi juri lomba penulisan. Beberapa buku tentang cerita anak karya dia telah diterbitkan, antara lain Pahlawan Lima K dan Menuju&lt;br /&gt;Kemenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaminya, Didi Tarsidi, yang juga tunanetra, mendukung kegemarannya menulis. "Bapak membantu saya mengetik tulisan saya dari huruf braille ke komputer,"&lt;br /&gt;kata Wacih tentang Didi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacih bertemu Didi, lelaki asal Sumedang itu, di asrama Bina Netra Wyata Guna. Didi adalah kakak kelasnya. Didi aktif sebagai Ketua Persatuan Tunanetra&lt;br /&gt;Indonesia (Pertuni). Mereka menikah pada tahun 1980 dan dikaruniai dua anak, Tommy Rinaldi (26) dan Sendy Nugraha (24). Kedua anaknya itu dapat melihat&lt;br /&gt;dan telah menjadi sarjana. "Mereka yang sering membacakan artikel di majalah atau koran untuk saya," ucap Wacih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prihatin &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai guru, ia berusaha membagi pengalamannya kepada murid-murid. Ia berharap pengalaman dia bisa menjadi motivasi murid untuk maju. "Setidaknya saya&lt;br /&gt;ingin mereka bisa seperti saya. Sebab, tunanetra pun bisa melakukan beragam pekerjaan, asalkan diberi kepercayaan mencobanya," katanya meyakinkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, Wacih mengaku prihatin sebab kemampuan membaca dan menulis huruf braille di kalangan murid-muridnya makin hari semakin rendah. Penyebabnya,&lt;br /&gt;bacaan beraksara braille sangat jarang dijumpai saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waktu saya kecil, buku braille banyak jumlah dan ragamnya. Buku anak-anak hingga dewasa tersedia. Tapi sekarang, buku braille makin sedikit diproduksi.&lt;br /&gt;Kalaupun ada, lebih banyak buku pelajaran sehingga anak tidak dapat memuaskan keinginan membaca buku yang mereka sukai," tutur Wacih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berharap pemerintah memerhatikan kebutuhan membaca dan menulis para tunanetra. "Sebab, kemampuan baca tulis itu tergantung banyaknya bahan bacaan yang&lt;br /&gt;ada," ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ketersediaan kertas untuk menulis pun sering kali sangat terbatas di sekolah-sekolah luar biasa untuk tunanetra. Padahal, kertas bekas dari&lt;br /&gt;kantor-kantor pun bisa dipakai oleh para tunanetra untuk menulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daripada dibuang lebih baik kertas bekas itu diberikan kepada para tunanetra," ucap Wacih yang mengidolakan penulis novel Marga T dan Mira W. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacih berharap semakin banyak anggota masyarakat yang bisa melihat bersedia menolong para tunanetra dengan tak berlebihan. Sebaliknya, para tunanetra pun&lt;br /&gt;bisa melakukan hal yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab, pada dasarnya semua manusia diberikan kemampuan untuk saling membantu meski dalam keterbatasan," kata Wacih yang memilih mewarnai hidupnya lewat&lt;br /&gt;tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biodata&lt;br /&gt;Nama: Wacih Kurnaesih&lt;br /&gt;Lahir: Sumedang, 30 April 1954&lt;br /&gt;Orangtua: Haris dan Eneh Hasanah&lt;br /&gt;Suami: Didi Tarsidi (56)&lt;br /&gt;Anak: Tommy Rinaldi (sarjana teknik) dan Sendy Nugraha (sarjana ekonomi)&lt;br /&gt;Pekerjaan: Guru Bahasa Indonesia di SLB A Negeri Bandung&lt;br /&gt;Pendidikan:&lt;br /&gt;- Sarjana Bahasa Indonesia dari Universitas Terbuka, 1993&lt;br /&gt;- Sarjana Muda Bahasa Indonesia dari IKIP Bandung, 1978 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi antara lain:&lt;br /&gt;- Juara I penulisan sastra cerita lokal untuk anak, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1983, "Pahlawan Lima K"&lt;br /&gt;- Juara I penulisan sastra Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1986, "Perjalanan Menuju Kemenangan"&lt;br /&gt;- Juara se-Asia Pasifik untuk penulisan esai "Manfaat Braille bagi Tunanetra" , Onkyo, Jepang, 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-5070103901443366119?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/5070103901443366119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=5070103901443366119' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/5070103901443366119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/5070103901443366119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/wacih-kurnaesih-menulis-dengan-rasa.html' title='Wacih Kurnaesih Menulis dengan Rasa'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-7340634274477397426</id><published>2008-03-14T21:10:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T21:11:32.837-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacih Kurnaesih'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Didi Tarsidi'/><title type='text'>Pasangan Suami Istri Buta - Jatuh Cinta di Pendengaran Pertama</title><content type='html'>Oleh Witri Suarti, Tabloid Wanita Indonesia, 4 April 2007  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Meski buta, tak menghalangi rasa cinta Wacih Kurnaesih dan Didi Tarsidi, bahkan mereka pun berkar-ya bersama.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di  ruangan ber-ac di studio METROTV, Wacih Kurnaesih dan  Didi Tarsidi  nampak serasi dengan busana warna senada.           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu mereka jadi  tamu acara  ‘KickAndy’ yang ditayangkan tiap  kamis jam 22.30 wib .  "Bukankah orang bilang penderitaan dapat membuat orang mengarang?&lt;br /&gt;Begitu juga aku,"  kata  Wacih Kurnaesih, Sang Juara Lomba  The World Blind Union (WBU) Asia Pasifik, dengan hasil karya esainya berjudul: Makna Huruf&lt;br /&gt;Braile Bagi Tunanetra. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sama seperti orang lain, Wacih dan Didi  juga memiliki handphone. Namun tentu saja handphone ini khusus bagi tunanetra, yakni dilengkapi software sms yang&lt;br /&gt;bisa  berbunyi untuk membaca sms yang dikirim.  Malam itu,  pasangan ini jadi pusat perhatian karena  hpnya ini.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Wacih  memiliki segudang joke yang menunjukkan sense of humor yang tinggi.  Ngobrol dengannya seperti bicara dengan teman lama. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;"Jika di sekolah aku  pendiam dan perasa. Tapi kalau di asrama, aduh saya paling heboh menurut teman-teman," katanya. Sebelum taping KickAndy, Wacih  &lt;br /&gt;mengisahkan perjuangan hidupnya bersama Didi, suami tercina.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asrama Membuat Mandiri&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;         Sejak lahir aku tak pernah  melihat. Seperti  tuna netra lainnya, kami juga  ingin melihat indahnya dunia. Namun, kami  selalu mensyukuri apa&lt;br /&gt;yang kami nikmati. Kami bisa mendengar, meraba, mencium. Kami cuma tak bisa melihat. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;         Walau tak bisa melihat, sejak kecil aku orang tuaku mengajarkan aku untuk mandiri. Aku mandi, cuci, memakai sepatu dan lain-lain sendiri.  Orang&lt;br /&gt;tuaku memperlakukan aku sama dengan  saudaraku yang lainnya. Sejak  lahir, ibuku, Enech Hasanah (almarhumah) ,  selalu membacakan dongeng untukku.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;         Mendengarkan dongeng ibuku, satu-satunya hiburanku, masa kecil. Ketidak mampuanku melihat, membuat aku tak bisa menikmati, hal-hal  yang bisa &lt;br /&gt;dinikmati orang lain. Seperti nonton televisi, rekreasi dan lain-lain.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika, aku berusia 6 tahun,  ayahku Haris (almarhum)  mengirimku ke Asrama Tunanetra Wiyataguna. Tak kudengar ayah dan ibu menangis melepasku  tinggal&lt;br /&gt;di asrama. Padahal hatiku sedih, gundah dan gelisah.  Setelah dewasa, aku baru sadar, kalau  apa yang dilakukan orang tuaku, sangat bermanfaat bagiku.&lt;br /&gt;Di asrama, aku jadi lebih mandiri. Di sini aku belajar masak, menyetrika dan lain-lain.   &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di rumah aku telah diajarkan mandiri, namun aku masih bisa dibantu  orang tuaku.  Di  asrama berbeda, benar-benar aku   mandiri. Tak ada lagi tangan-tangan&lt;br /&gt;yang membantuku. Kalau ada kesulitan, misalnya mencarikan barang,   aku harus mencari sendiri.  Tempaan hidup di asrama membuat aku kuat.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Namun yang membuat aku bersedih, aku tak lagi bisa mendengarkan ibuku mendongeng.  Tiap-tiap liburan, aku bahagia sekali, tiap malam, tiap  akan  tidur,&lt;br /&gt;mendengarkan  ibu mendongeng.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kelas V SD,   guncangan terhebat menghampiriku. Ibu meninggal.  Aku tak lagi bisa mendengarkan ibu mendongeng.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepedihan ditinggal ibu, aku tuangkan di buku diary.  Berminggu-minggu, isinya hanya tentang kesedihan.  Hasilnya, tekanan kepedihan itu berkurang. Lambat&lt;br /&gt;laun aku bisa melepas kepergian ibu.   Sejak itu pula aku terbiasa menautkan kata demi jadi kalimat-kalimat yang indah.   Aku suka sekali mengerjakan tugas-tugas&lt;br /&gt;mengarang di SLB (Sekolah Luar Biasa)  Padjajaran, Bandung.   Aku selalu mendapatkan nilai terbaik di tugas mengarang. Guru bahasa Indonesia, bangga dan&lt;br /&gt;sayang padaku.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Raja Duit &lt;br /&gt;          Sejak kecil aku dijuluki: Wacih   "Si Raja Duit" karena menciptakan uang-uangan dari kertas dengan tulisan braile sebagai penanda angka nominalnya,&lt;br /&gt;ha…ha…., karena aku suka menghitung uang, maka itu, begitu aku dewasa, aku terpilih jadi Bendahara Koperasi Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan mendengarkan ibu mendongeng inilah yang membuat aku suka sekali menulis diary hingga sekarang. Kebiasaan  menulis diary ini pula yang mengantarku&lt;br /&gt;suka menulis, dan mengikuti berbagai lomba menulis, dan   mendapatkan penghargaan internasional.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika SD dan  SMP  aku sekolah di SLB. Semua teman-temanku tuna netra.  Kami sama-sama menggunakan huruf braille.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ketika  aku melanjutkan  pendidikan guru di sekolah umum di SPG 2  Citarum.  Di sini pertama kalinya aku sekolah dengan  orang normal.     Aku mulai&lt;br /&gt;kesulitan. Buku-buku pelajaran semuanya tak dalam bahasa braille.   Tapi, aku tak menyerah.  Aku  rekam  suara guruku saat mengajar di kelas. Teman-temanku&lt;br /&gt;baik semua, mereka mau membacakan buku-buku pelacaran itu, dan aku merekamnya. Saat  pulang sekolah aku   terus menerus mendengarkan kaset-kaset itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau tuna netra, aku  punya semangat jadi yang terbaik di kelas.   Aku selalu jadi juara kelas, paling tidak juara ke II.  Lulus, aku mengajar pelajaran&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia  di SLB A Padjajaran Bandung.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil  kerja, aku meneruskan kuliah di  IKIP (kini UPI) Bandung untuk mendapatkan gelar sarjana muda (1978).      Aku dites langsung oleh  Ketua Jurusan&lt;br /&gt;Bahasa Indonesia   IKIP, dengan 100 soal secara lisan. Di  IKIP  teman buleku, Helen Bloomfield, baik sekali denganku. Mungkin karena aku tunanetra.  Tampa&lt;br /&gt;aku minta tolong, dia bersedia membaca buku-buku pelajaranku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa berhutang budi pada Helen. Dia yang mengajarkan aku trik membaca buku pelajaran. Kata dia   tak perlu baca seluruhnya, inti-intinya saja yang&lt;br /&gt;pasti keluar kalau ujian. Ia benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena ajaran Helen, aku hanya membaca 2 buku dari 12 buku wajib yang dianjurkan harus dibaca oleh dosennya. Karena tak ada bacaan berhuruf braile,&lt;br /&gt;tentu saja aku  mengandalkan bantuan teman-teman  untuk membacakan buku. Sebuah buku saja berhalaman ratusan. Jadi sudah cukup dibacakan 2 buku saja. Keterbatasannya&lt;br /&gt;tak menjadikan halangannya untuk menjadi mahasiswa berprestasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kampus aku belajar bahasa Jawa, Kawi dan Sansekerta. Alhamdulillah aku  bisa Bahasa Jawa dengan baik. Cuma yang jadi kendala saat itu bagaimana kelak&lt;br /&gt;saya menghadapi pelajaran bahasa Kawi dan Sansekerta? Kalau bahasa Arab ada bacaan braillenya, yang dua itu tidak.  Untung aku ada akal,  ketika kuliah&lt;br /&gt;aku   dengarkan baik-baik kata demi kata, lalu aku tirukan saja sebisa-bisanya. Alhamdullilah aku lulus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelar Sarjana Pendidikan aku peroleh   di  Universitas Terbuka (UT).  Ketika    kuliah di UT, karena tidak banyak tatap muka,  aku  sering ketiduran kalau&lt;br /&gt;mendengarkan materi pelajaran dari kaset ha..ha..ha.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertemu Kekasih           &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku masih duduk di bangku SPG, ada lelaki yang menarik perhatianku. Namanya Didi Tarsidi, dia sama-sama tunanetra, dan kuliah di IKIP.  Waktu itu, &lt;br /&gt;dia baru masuk asrama kami. Saat mengenalkan diri pada anak-anak asrama itulah aku jatuh cinta pada  suaranya. Ternyata, begitu juga dengan Didi. Jika&lt;br /&gt;manusia normal,  mungkin kami jatuh cinta pada pandangan pertama.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Setelah  Didi bekerja, jadi dosen di IKIP. Kemudian  ia membeli rumah   di Jalan H.Kurdi Baru II No. 17 Bandung, dari tabungan dan meminjam  uang.&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian kami menikah tahun 1980.   Ah bahagianya aku, apalagi kemudian lahir   Tommi Rinaldi tahun 1981.   Ia lahir normal.   Bagi  kami&lt;br /&gt;ini semua anugerah yang tak terkira.  Terima kasih Tuhan, kami berdua tunanetra, namun Kau karuniai kami anak yang  normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Aku sendiri yang mengerjakan seluruh pekerjaan rumah, dari masak, mencuci, menyetrika,  dan mengurus Tommi.   Didi juga membantuku mengurus rumah.&lt;br /&gt;Dia sendiri yang membetulkan genteng bocor, langit-langit yang bermasalah, atau  bagian rumah yang rusak lainnya.  Didi juga senang menyuapi  Tommi,  mengganti&lt;br /&gt;popoknya.     Suamiku  mengenal dengan baik setiap sudut rumah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Inilah keluarga kami, kami berusaha mengerjakan sendiri. Mungkin bagi orang normal  tak terbayangkan, tunanetra seperti kami bisa mengerjakan&lt;br /&gt;Seluruh pekerjaan ini.   Yang terpenting bagi kami, adalah kemauan.   Seperti memasak. Asalkan kita  mau memasak dan tak takut api. Memasak itu gampang kok.   Untuk&lt;br /&gt;merasakan tahu goreng sudah saatnya di balik, selain dari harumnya tahu yang sudah matang,  aku  bisa merasakan kulit tahu yang mengeras di ujung sendok&lt;br /&gt;pembalik.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;         Lihat saja  rumah kami ini, terlihat rapi kan? Ha …ha… padahal aku tak bisa lihat loh. Tapi aku bisa merasakan, kalau rumahku kotor, bau dan tak&lt;br /&gt;rapi, dari tangan dan penciumanku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-7340634274477397426?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/7340634274477397426/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=7340634274477397426' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/7340634274477397426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/7340634274477397426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/pasangan-suami-istri-buta-jatuh-cinta.html' title='Pasangan Suami Istri Buta - Jatuh Cinta di Pendengaran Pertama'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-5827255469505238415</id><published>2008-03-14T21:07:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T21:09:09.345-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Didi Tarsidi'/><title type='text'>Didi Tarsidi: Harus Menunggu ”Orang Normal” Terurus Dulu?</title><content type='html'>Oleh agus rakasiwi, Pikiran Rakyat, 21 September 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HARI Minggu di tahun 1982, adalah momen lucu sekaligus membuatnya miris bagi Didi Tarsidi (55). Waktu itu, ia sedang menunggu bus kota yang akan membawanya&lt;br /&gt;kembali ke rumah di kawasan Mohammad Toha. Selagi menunggu, tiba-tiba seorang kernet angkutan umum memasukkan beberapa receh ke saku bajunya, “Pa punten,&lt;br /&gt;ieu kanggo meser rokok (maaf pak, ini buat beli rokok),” kata kernet jurusan Cicaheum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggu depannya, di tempat yang sama, lagi-lagi kernet yang sama melakukannya lagi. Kejadian kedua itu membuat emosinya terpancing. Didi langsung membuang&lt;br /&gt;uang pemberian kernet itu ke jalan. “Saya mengira ia orang yang sama. Kali ini ia tidak lagi basa-basi,” kata Didi. “Saya benar-benar kesal saat itu. Saya&lt;br /&gt;sangat emosi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya pula, saat Didi sedang menelusuri jalan rusak di Bukit Duri, Ciumbuleuit, ia sempat diteriaki orang gila oleh sekelompok anak kecil. Pasalnya,&lt;br /&gt;Didi yang berjalan sendirian dengan memakai tongkat dan kaca mata hitam, jalan terantuk-antuk untuk menghindari jalan yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Persepsi anak-anak tentang orang gila saat itu, mungkin adalah orang yang memakai kacamata hitam, membawa tas besar, dan berjalan terantuk-antuk seperti&lt;br /&gt;orang linglung,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja kernet dan anak-anak itu tahu kalau Didi adalah seorang dosen sekaligus mahasiswa S3, tentu saja situasinya akan berbeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didi mengatakan, peristiwa itu terjadi karena dalam benak masyarakat telah terbentuk persepsi bahwa tunanetra adalah kaum yang harus dikasihani. Tunanetra&lt;br /&gt;dianggap “berbeda” dari orang-orang di sekitarnya. “Kenapa harus disebut berbeda. Bukankah kita sama hanya saja ada perbedaan fisik saja,” kata bapak dua&lt;br /&gt;anak ini tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMERINTAH Indonesia sudah sejak lama menetapkan peraturan perundang-undangan menyangkut keberadaan penyandang cacat. Dalam UU tersebut ditegaskan bahwa&lt;br /&gt;para penyandang cacat, seperti tunanetra, haruslah diperlakukan sama dengan mereka yang normal. Dalam setiap lini kehidupan, penyandang cacat tetap harus&lt;br /&gt;mendapat pendidikan, pekerjaan, dan penghidupan yang layak bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, pada pelaksanaan riil di lapangan, keberadaan mereka masih saja dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Misalnya, dalam hal pekerjaan. Undang-undang&lt;br /&gt;mencantumkan klausul bahwa penyandang cacat berhak memperoleh pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan derajat kecacatannya. Klausul itu menyebabkan pemberi&lt;br /&gt;pekerjaan bebas memberi penilaian terhadap kondisi fisik pelamar tanpa mempertimbangkan potensi keterampilan yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana bisa mereka memberi penilaian terhadap diri tunanetra, sementara tidak pernah diminta untuk menunjukkan bakat dan keterampilan yang kami miliki,”&lt;br /&gt;ujar Didi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlakuan seperti itu, berbuah banyaknya tunanetra yang akhirnya memilih hidup di jalan sebagai pengemis. Lambat-laun persepsi di masyarakat pun berkembang&lt;br /&gt;bahwa para tunanetra adalah kelompok yang harus dikasihani agar hidupnya tetap bertahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didi meyakini bahwa persepsi tersebut bisa dipatahkan dengan cara memberikan asupan pendidikan yang memadai bagi kaum tunanetra. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orang tunanetra sebenarnya bisa bekerja menjadi apapun jika diberikan technology assist yang tepat,” kata mahasiswa S3 UPI bidang kajian konseling ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia pendidikan, asupan teknologi yang bermanfaat bagi tunanetra sudah lama berkembang. Ada software computer bicara yang disebut “George”. Alat&lt;br /&gt;ini setidaknya dapat membantu tunanetra untuk mengakses bahan bahan bacaan yang ada di internet atau yang tersimpan di daftar arsip komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Indonesia termasuk pihak yang telat mengadopsi teknologi itu. “Pemerintah selalu bilang, boro-boro urus orang cacat, kalau orang normal saja belum&lt;br /&gt;terurus semua. Lalu, apakah kami harus menunggu orang normal dulu terurus. Sepertinya itu, tidak mungkin,” kata Didi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pendapat itulah, Didi lalu memelopori pembukaan Pusat Layanan Tunanetra di UPI. Lembaga itu adalah yang pertama di Indonesia. Kenapa di UPI?&lt;br /&gt;Karena universitas itu adalah satu-satunya kampus negeri di Bandung, Jawa Barat, yang sudah menerima mahasiswa tunanetra sejak 1960-an. Saat ini terdapat&lt;br /&gt;45 mahasiswa tunanetra yang menempuh jalur sarjana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA 14 September lalu pusat layanan ini resmi digunakan oleh para mahasiswa tunanetra di UPI. Di tempat ini mereka akan mendapatkan aneka ragam fasilitas,&lt;br /&gt;seperti internet sampai meminta bukunya disalin ke huruf braile atau dipindahkan ke media elektronik seperti kaset. Dan, bagi para mahasiswa tunanetra&lt;br /&gt;yang baru menginjakkan kakinya di UPI bisa meminta untuk diantar berkeliling kampus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampus, baru pada Senin (18/9) menyambangi pusat layanan tersebut. Saat bertemu dengan Didi Tarsidi di dalam laboratorium Pendidikan Luar Biasa Fakutas&lt;br /&gt;Ilmu Pendidikan UPI, pintu masuk ke ruangan pusat layanan masih terkunci rapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waduh, kok masih terkunci. Ya... seharusnya sudah buka. Jam kerja tempat ini kan sejak pukul delapan sampai jam empat sore,” ujar Didi, yang melihat jam&lt;br /&gt;sudah hampir pukul sepuluh pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, Didi dan Kampus masih bicara beberapa hal mengenai tujuan pendirian pusat layanan mahasiswa tunanetra ini. Berikut petikan wawancaranya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betulkah pemerintah kita belum pernah mendirikan pusat layanan seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Pemerintah kita masih banyak bicara di atas kertas dan belum mengimplementasikan apapun amanat UU tentang Penyandang Cacat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan siapa Anda bekerja sama untuk mendirikan tempat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat ini berdiri atas kerja sama lembaga nirlaba ICEVI dan Nippon Foundation. ICEVI adalah lembaga yang mengurusi masalah penyandang cacat tingkat Asia&lt;br /&gt;Pasifik. Karena visinya sama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), di mana saya duduk sebagai wakil ketuanya. Karena kesamaan visi itu maka dijalinlah&lt;br /&gt;kerja sama. Sementara Nippon Foundation adalah lembaga donor yang sudah lama bekerja sama dengan UPI. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, ICEVI tertarik dengan pemaparan saya tentang kondisi mahasiswa tunanetra di Indonesia. Waktu itu, kebetulan saya diundang sebagai pembicara dalam&lt;br /&gt;konferensi internasional tahun 2004 tentang pendidikan tinggi untuk mahasiswa cacat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang Anda paparkan kepada mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memaparkan bahwa mahasiswa tunanetra di Indonesia haruslah bekerja keras untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Di Indonesia tidak ada pusat layanan&lt;br /&gt;yang dapat membantu kerja mahasiswa. Kasihan bukan mahasiswa yang setiap waktu luangnya dihabiskan untuk mengejar ketertinggalan. Karena memang tidak ada&lt;br /&gt;buku dalam huruf braile untuk mahasiswa, tidak ada akses computer bicara dan lain-lain. Nah, dengan adanya layanan ini, mereka yang berkuliah tidak lagi&lt;br /&gt;kesulitan seperti pada zaman saya berkuliah dulu. Duh, repotnya. Sebenarnya saya yakin, dengan orang berpendidikan tinggi, maka citra negatif masyarakat&lt;br /&gt;bisa dikurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kalimat Anda terakhir benar adanya. Kenapa Anda yakin pendidikan tinggi bisa mengubah perspektif masyarakat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, tentu saja. Sekarang yang terlihat kan adalah mereka yang sering berada di jalan. Sementara yang bersekolah dan mencapai karir yang baik karena sekolahnya&lt;br /&gt;tidak pernah terekspos. Misalnya, di tingkat nasional orang mengenal Bambang Basuki. Dia adalah sarjana tunanetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa Anda begitu optimis. Sementara kita tahu pemerintah masih diskriminatif terhadap kaum tunanetra dalam bidang pekerjaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gini, Mas, kita harus optimis. Mustahil perubahan terjadi kalau kita pesimis. Bukankan kita hidup pada dunia yang sama, sehingga harusnya kita dapat kesempatan&lt;br /&gt;yang sama pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana pembiayaan tempat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UPI menyediakan ruangan dan akses internet. Sementara untuk peralatan semuanya disediakan oleh ICEVI dan Nippon Foundation. Tersedia dana US$ 70 ribu untuk&lt;br /&gt;macam-macam kebutuhan.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-5827255469505238415?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/5827255469505238415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=5827255469505238415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/5827255469505238415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/5827255469505238415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/didi-tarsidi-harus-menunggu-orang.html' title='Didi Tarsidi: Harus Menunggu ”Orang Normal” Terurus Dulu?'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-499207552911066867</id><published>2008-03-14T21:04:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T21:06:55.327-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Didi Tarsidi'/><title type='text'>Blind is only a Character</title><content type='html'>Oleh Aulia Ardiansyah,   &lt;li&gt;&lt;a href="http://ardiansyah-aulia.blogspot.com/2005/09/blind-is-only-character.html"&gt;blogspot.com&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blind is only a character. Sama seperti karakter lain yang ada pada diri kita. Ada orang yang tercipta pendek dan ada juga yang tinggi. Begitulah sepetik&lt;br /&gt;kalimat yang saya dengarkan sembari tetap menjaga waktu di sebuah seminar yang diadakan oleh lab saya. Kalimat yang dilontarkan oleh seorang pemakalah&lt;br /&gt;yang kebetulan seoarang tuna netra. Beliau mengoperasikan sendiri sebuah laptop dibantu dengan sebuah software. Pak Didi Tarsidi namanya, seorang dosen&lt;br /&gt;UPI. Menurut beliau juga dunia IT tidak pernah mendiskriminasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering kali kita terpaku dalam kekurangan yang kita miliki. Jikalau kekurangan tersebut kita sikapi dengan proses perbaikan diri, rasanya malah lebih baik.&lt;br /&gt;Tetapi jika kita menggunakan kekurangan kita sebagai tameng untuk enggan melakukan sesuatu, itulah yang menjadi masalah. Bisa saja Pak Didi menggunakan&lt;br /&gt;ketunanetraannya sebagai alat untuk mencari belas kasihan orang lain. Tetapi beliau memilih untuk berjuang bahkan pernah keliling keluar negeri. Sungguh&lt;br /&gt;semangat yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Don't judge a book by its cover. Kita sering memandang dunia dengan mata fisik. Padahal banyak sekali makna yang terkandung di balik apa-apa yang kita&lt;br /&gt;lihat. Sudah banyak saya kira perihal yang menyangkut hal ini. Kembali lagi ke pernyataan Pak Didi bahwa dunia IT tidak pernah mendiskriminasi. Kita tidak&lt;br /&gt;tahu orang seperti apa yang sedang berbalas e-mail dengan kita, kita tidak tahu apakah orang yang sedang di depan komputer seberang mempunyai kepala (ini&lt;br /&gt;juga satu lelucon yang disampaikan Pak Didi). Kita hanya tahu pikiran-pikiran lewat tulisan yang digoreskan oleh lawan bicara kita di dunia seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya malu, seorang manusia seperti Pak Didi mempunyai semangat yang begitu besar padahal mempunyai kekurangan pada hal fisik. Menjadi renungan saya&lt;br /&gt;juga, seharusnya saya juga bisa bersemangat seperti beliau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-499207552911066867?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/499207552911066867/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=499207552911066867' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/499207552911066867'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/499207552911066867'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/blind-is-only-character.html' title='Blind is only a Character'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-1662035364153556853</id><published>2008-03-14T21:02:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T21:03:48.641-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Didi Tarsidi'/><title type='text'>Didi Tarsidi: Menjadi Tuna Netra Bukan Halangan</title><content type='html'>Oleh Aan Satriani &amp; Arie Lukihardianti, Republika Online, 24 Juli 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banyak negara maju dan beberapa negara ASEAN, para penyandang cacat mendapat tunjangan life allowance untuk membantu mereka mandiri sebagai anggota&lt;br /&gt;masyarakat, mendapatkan kesempatan kerja yang setara, dan menjalani kehidupan yang lebih tertata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kondisinya justru terbalik. Kesempatan kerja yang sempit serta persepsi keliru yang berkembang di masyarakat membuat para tuna netra selalu&lt;br /&gt;menjadi 'warga kelas dua'. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama 30 tahun terakhir, menurut Ketua Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Drs Didi Tarsidi, M Pd, pemahaman masyarakat Indonesia pada para tuna netra&lt;br /&gt;cenderung tak mengalami perubahan berarti. ''Dari sisi jumlah memang meningkat, tapi dari sisi persentase tetap karena jumlah penduduk juga kan meningkat,''&lt;br /&gt;paparnya. Meski demikian, ia tak lelah untuk mensosialisasikan sekaligus mengampanyekan keberadaan dan kehidupan para tuna netra yang sesungguhnya tak&lt;br /&gt;jauh berbeda dengan anggota masyarakat lain yang berpenglihatan normal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada wartawan Republika, Arba'iyah Satriani, Arie Lukihardianti dan fotografer Yogi Ardhi Cahyadi, Didi menjelaskan mengenai pentingnya perubahan persepsi&lt;br /&gt;masyarakat Indonesia terhadap para tuna netra, perlunya UU No 4/1997 diamandemen serta keinginannya untuk menulis buku-buku untuk para tuna netra. Berikut&lt;br /&gt;petikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pandangan Anda terhadap dunia pertunanetraan sekarang ini?&lt;br /&gt;Saya ingin membandingkannya dengan 20 atau 30 tahun yang lalu, ketika saya masih mahasiswa. Ada beberapa hal yang sangat berbeda, tapi ada beberapa hal&lt;br /&gt;yang sama. Kita lihat yang samanya dulu, pemahamannya masyarakat tentang ketunanetraan itu tampaknya masih ... prototipe ya. Saya tidak bicara tentang&lt;br /&gt;individu yang sudah kenal betul dengan individu tuna netra ya, tapi secara umum. Kebanyakan orang memandang tuna netra sebagai suatu ketidakberdayaan,&lt;br /&gt;ketidakmampuan, dan seterusnyalah, dan mereka identikkan kehilangan penglihatan itu dengan kehilangan segala-galanya. Memang, di satu sisi orang pernah&lt;br /&gt;mungkin, membaca atau menyaksikan sendiri, tuna netra yang punya pencapaian biasa-biasa saja tapi mereka menganggap sebagai luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya bagaimana?&lt;br /&gt;Misalnya, menyaksikan orang tuna netra bisa mengupas mangga sendiri, itu dinilai luar biasa. Atau mengetik sendiri tanpa bantuan orang lain, mereka melihat&lt;br /&gt;itu hal yang aneh. Apalagi melihat orang tuna netra dapat melakukan hal-hal yang biasanya dilakukan dengan penglihatan. Meski begitu, masyarakat melihat&lt;br /&gt;hal seperti itu sebagai suatu kekecualian. Jadi, masyarakat tetap mempunyai persepsi bahwa tuna netra pada umumnya tidak begitu. Mereka, misalnya, lebih&lt;br /&gt;jauh punya informasi bahwa tuna netra bisa mengoperasikan komputer, tapi tetap persepsi mereka tentang tuna netra tidak berdaya, kecuali yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kebanyakan masyarakat belum memandang orang tuna netra sebagai manusia utuh?&lt;br /&gt;Betul. Mereka tidak bisa menggeneralisasikan bahwa semua orang tuna netra itu tidak mempunyai potensi yang bisa dikembangkan. Jika ada satu orang tuna&lt;br /&gt;netra berkemampuan sama seperti orang awas, mereka tetap memandang orang tuna netra yang ini berbeda, tetapi pada umumnya orang tuna netra ya tidak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sudut pandangnya terbalik dengan melihat orang-orang yang awas?&lt;br /&gt;Ya, betul. Kalau mereka melihat sesuatu yang biasa, mereka melihat ini sebagai suatu pengecualian, tapi ketika mereka melihat suatu yang tidak bisa dilakukan&lt;br /&gt;oleh tuna netra, mereka menggeneralisasinya pada semua orang tuna netra. Padahal, saya selalu mengatakan bahwa tuna netra adalah individu yang punya berbagai&lt;br /&gt;kemungkinan sebagaimana individu lainnya. Semua tuna netra mempunyai kemungkinan yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, kondisi 20 tahun yang lalu dengan sekarang ini relatif tidak ada perbedaan yang signifikan?&lt;br /&gt;Ya, mungkin dari jumlah orang yang mempunyai persepsi yang tepat, jumlahnya bertambah. Tapi, persentasenya tidak karena pertambahan jumlah penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai vice president World Blind Asia Pasific, bagaimana Anda membandingkan situasi di Indonesia dengan negara-negara di Asia Pasifik?&lt;br /&gt;Kalau dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, Singapura, kita berada di bawah dalam hal-hal tertentu. Soal kesempatan pendidikan, Malaysia lebih baik.&lt;br /&gt;Meskipun secara jumlah Indonesia unggul, tapi persentase kecil. Mungkin penduduk Malaysia lebih sedikit. Mengenai kesejahteraan, Malaysia, Thailand, Singapura&lt;br /&gt;punya undang-undang yang mengatakan semua penyandang cacat termasuk tuna netra berhak memperoleh life allowance (tunjangan kecacatan). Lalu, mungkin orang&lt;br /&gt;bertanya, kenapa harus ada tunjangan kecacatan padahal ingin disamakan dengan orang normal? Nah, tunjangan kecacatan ini diberikan untuk memungkinkan penyandang&lt;br /&gt;cacat mencapai kemandirian sehingga mencapai kebersamaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya seperti apa?&lt;br /&gt;Contohnya, saat menggunakan komputer, orang awas bisa langsung menggunakannya sementara orang cacat harus menambah software yang mahal harganya. Begitu&lt;br /&gt;juga, untuk pergi ke daerah yang belum dikenal, penyandang cacat membutuhkan pendamping. Jadi, penyandang cacat itu membutuhkan dana yang banyak untuk&lt;br /&gt;bisa hidup mandiri demi mencapai tadi. Prinsip ini yang digunakan di banyak negara. Tapi, dibandingkan Myanmar, Kamboja, kita masih di atas. Jadi, ada&lt;br /&gt;di tengah-tengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan undang-undang untuk tuna netra?&lt;br /&gt;Kita mempunyai undang-undang untuk penyandang cacat, yaitu Undang-Undang No 4/1997. Tapi, banyak hal di dalamnya yang memerlukan revisi amandemen. Misalnya,&lt;br /&gt;dalam banyak pasal dikatakan penyandang cacat harus mendapatkan kesamaan pekerjaan, sesuai dengan jenis derajat kecacatan dan kemampuannya. Awal kata pasal&lt;br /&gt;itu bagus, tapi ujungnya jelek, sesuai jenis derajat kecacatan dan kemampuannya. Jeleknya kenapa? Karena pemahaman orang bervariasi dan kurang untuk kemampuan&lt;br /&gt;penyandang cacat. Ketika kita mengatakan penyandang cacat harus diberi pendidikan yang sama sesuai kemampuannya. Siapa yang akan menilai kemampuan? Jadi,&lt;br /&gt;saya kira klausul itu tidak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persentase tuna netra yang terdidik dan tidak di Indonesia berapa banyak saat ini?&lt;br /&gt;Berdasarkan data, kurang dari 10 persen anak penyandang cacat berusia sekolah memiliki pendidikan formal. Hal itu terjadi karena kurangnya pemahaman orang&lt;br /&gt;tua dan masyarakat sekitarnya bahwa kesempatan itu ada. Orang tua terlalu sayang dan takut kalau anaknya jauh. Ada juga orang tua yang malu dan mengurusnya&lt;br /&gt;di rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana penerapan sekolah inklusi saat ini?&lt;br /&gt;Inklusi memberikan kesempatan penyandang cacat pada sekolah umum dan memberikan dukungan. Sekolah dipersiapkan menjadi mudah diakses bagi penyandang cacat.&lt;br /&gt;Kalau inklusi dilaksanakan jadi sekolah yang ideal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehilangan penglihatan sejak usia lima tahun, karena sakit infeksi yang dideritanya, tidak membuat pria kelahiran Sumedang pada 1 Juni 1951 ini merasa&lt;br /&gt;Berbeda dengan orang lain yang punya penglihatan normal. Saat dirinya tak bisa melihat lagi, seluruh anggota keluarga tetap mendukungnya. ''Kakak saya masih tetap&lt;br /&gt;mengajak saya jalan-jalan atau pergi ke kolam pemancingan ikan. Saya pun tetap bermain dengan teman-teman di kampung,'' kata anak ketiga dari lima bersaudara&lt;br /&gt;ini mengenang orang tuanya yang bekerja sebagai petani pun tak pernah membeda-bedakan perlakuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran jika kemudian penggemar musik jazz ini tak pernah berpikir atau berandai-andai untuk bisa melihat. Didi memang tak pernah merasa ketiadaan penglihatannya&lt;br /&gt;sebagai halangan. Terbukti, dosen Jurusan Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, UPI ini bisa menyelesaikan pendidikan S1 (Pendidikan Bahasa&lt;br /&gt;&amp; Sastra Inggris, IKIP Bandung, 1979) dan S2 (Bimbingan dan Penyuluhan Konsentrasi Bimbingan Anak Khusus, UPI, 2002) dengan lancar. Sejak duduk di bangku&lt;br /&gt;kuliah, Didi yang akan memulai kuliah program doktornya pada Agustus 2005 ini sudah bekerja sebagai penerjemah dengan penghasilan yang lumayan. Murid-muridnya&lt;br /&gt;adalah para ekspatriat yang ingin belajar bahasa Indonesia secara privat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah-langkah apa yang sudah dilakukan Pertuni selama ini?&lt;br /&gt;Pertuni mempunyai banyak sekali program yang dirumuskan oleh suatu forum besar yang mengakumulasi berbagai macam ide. Tapi, ada satu yang bisa diprioritaskan&lt;br /&gt;untuk mengakomodasi program-program pada umumnya, yaitu kampanye kesadaran pada masyarakat dengan berbagai cara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa bentuk kampanye itu?&lt;br /&gt;Bisa dilakukan dalam bentuk formal atau bentuk tidak formal. Yang formal misalnya mengadakan lokakarya, seminar, dan sebagainya. Yang tidak formal melalui&lt;br /&gt;individu-individu yang harus menunjukkan kemampuannya di tengah-tengah masyarakat. Saya selalu mengatakan, (kepada orang-orang tuna netra, red) kita harus&lt;br /&gt;selalu berada di tengah-tengah masyarakat karena masyarakat tidak tahu persis siapa tuna netra. Ini dikarenakan di jalan-jalan, yang mereka lihat adalah&lt;br /&gt;orang-orang tuna netra yang meminta-minta dan seterusnya. Sementara, orang-orang yang memiliki kemampuan berada di balik tembok. Untuk menyeimbangkan informasi&lt;br /&gt;di masyarakat, kita harus keluar atau mengajak mereka masuk ke dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai kepala rumah tangga, Didi pun akan memperbaiki genteng rumah yang bocor atau langit-langit rumah yang bermasalah, ketika anak-anaknya masih kecil.&lt;br /&gt;''Saya mengenal dengan baik setiap sudut rumah saya. Sebelum saya punya banyak kesibukan dan anak-anak masih kecil, saya kerap mengerjakan pekerjaan rumah,''&lt;br /&gt;katanya. Waktu luang yang dimilikinya digunakan untuk berbagi dengan istrinya. Kadang, Didi mendengarkan cerita yang dibacakan istrinya. Kali lain, pria&lt;br /&gt;yang sangat gemar mengutak-atik komputer ini yang membacakan kisah yang diperolehnya di internet kepada istrinya. ''Kalau tidak, kami pergi ke luar rumah&lt;br /&gt;untuk makan atau berkunjung ke rumah teman,'' katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda punya hobi mengutak-atik komputer, bisa diceritakan?&lt;br /&gt;Hobi saya ini bermula dari membaca informasi dari negara maju. Karena saya bisa lebih mudah mendapatkan publikasi gratis dari majalah luar negeri dibandingkan&lt;br /&gt;dalam negeri dalam huruf braile. Saya dapat kiriman dari Amerika, Inggris, dan beberapa negara lain. Saya baca banyak hal tentang teknologi itu. Lalu saya&lt;br /&gt;membaca ada kursus tertulis yang diselenggarakan oleh Belanda dan Amerika tentang macam-macam topik, salah satunya komputer. Saya menulis surat pada sekolah&lt;br /&gt;itu dan mereka memberikan bacaan dalam bentuk braile. Saya juga memberikan jawaban soal-soal tes dengan mesin tik biasa dan dikirimkan lewat pos. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya?&lt;br /&gt;Saya mengambil kursus berjudulnya Introduction to My Computer pada awal tahun 1990-an. Kursus ini menawarkan lebih dari 100 macam. Saya ambil beberapa&lt;br /&gt;termasuk komputer, word processing. Pengenalan saya terhadap komputer baru sampai pada pengetahuan. Karena saya hanya membaca, belum pernah memegang sama&lt;br /&gt;sekali. Pertama kali saya meraba komputer itu ketika saya mengikuti seminar di Kuala Lumpur tahun 1994, yaitu saat seminar tentang teknologi komputer bagi&lt;br /&gt;tuna netra se-ASEAN. Saya memiliki komputer tahun 1998 ketika istri saya memiliki uang banyak. Jadi, istri saya menulis buku dibeli pemerintah untuk program&lt;br /&gt;inpres dan kami sepakat untuk membeli komputer dari hasil tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda sering ke luar negeri sendirian ya?&lt;br /&gt;Saya ke luar negeri karena dikirim oleh Pertuni atau UPI. Hanya satu kali yang diundang secara pribadi dan disediakan ongkos untuk pendamping. Tapi, pada&lt;br /&gt;umumnya saya ke luar negeri dibiayai oleh dinas karena keterbatasan dana. Menurut saya, bepergian sendiri dengan naik pesawat itu jauh lebih mudah bila&lt;br /&gt;dibandingkan dengan bis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kok bisa?&lt;br /&gt;Karena di pesawat ada perhatian khusus pada penyandang cacat. Ini saya bicara soal aturan penerbangan internasional. Misalnya, pada saat ke Kanada. Saya&lt;br /&gt;datang ke bandara, petugas Garuda Indonesia langsung mendatangi saya, membawa ke ruang tunggu, ke pesawat, dan disambut pramugari di pesawat. Ketika sampai&lt;br /&gt;ke tempat tujuan, saya dibawa oleh pramugari turun dan ada yang menyambut lagi. Jadi ada komunikasi. Bahkan, mereka menawarkan kursi roda. Saya bilang&lt;br /&gt;saya hanya tidak bisa melihat, tapi bisa jalan. Kemudian, saat ada peragaan penggunaan pelampung dan keselamatan, pramugari memeragakan secara individual&lt;br /&gt;dengan mendatangi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menikah dengan gadis pujaannya, Wacih Kurnaesih, S Pd pada 1980, wajah Didi tampak berbinar mengenang saat pernikahan mereka. ''Saya membeli rumah tiga&lt;br /&gt;bulan sebelum menikah dengan uang tabungan yang saya miliki ditambah dengan uang pinjaman. Jadi, kami menikah di rumah sendiri,'' ujarnya. Wacih adalah&lt;br /&gt;adik kelasnya sekaligus tetangga kamar di asrama Wyata Guna Bandung --tempat Didi tinggal selama menempuh pendidikan S1. Buah hati pertama lahir pada 1981&lt;br /&gt;dengan nama Tommi Rinaldi. Kini, Tommi duduk di bangku akhir kuliahnya di Jurusan Geologi Unpad. Sedangkan adiknya, Sendy Nugraha, yang lahir pada 1983&lt;br /&gt;saat ini menjadi mahasiswa semester 8 Jurusan Akuntansi di Unpas Bandung. Mendidik anak-anaknya yang lahir normal, Didi dan Wacih berlaku seperti umumnya&lt;br /&gt;para orang tua lain. ''Saya bahkan senang menyuapi anak saya, mengganti popok mereka,'' katanya tersenyum. Kedua anaknya mengenal ketunanetraan orang tua&lt;br /&gt;mereka secara alami karena setiap hari selalu berinteraksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai motivasi Anda sehingga bisa mencapai posisi seperti sekarang, menjadi lektor dan akan segera kuliah S3, bagaimana awalnya?&lt;br /&gt;Ketunanetraan itu menjadi bagian dari hidup saya. Ketika saya menjalani kehidupan ini, ketunanetraan itu tidak menjadi bagian dari pemikiran saya. Yang&lt;br /&gt;menjadi pemikiran saya adalah bagaimana bisa sukses dalam hal tertentu. Misalnya, bagaimana saya bisa menyelesaikan S2, bagaimana saya ingin jadi doktor&lt;br /&gt;dan seterusnya. Jadi, tidak pernah terlintas, ''coba saya melihat''. Artinya, motivasi saya adalah motivasi untuk bisa lebih maju lebih jauh di dalam kehidupan&lt;br /&gt;saya. Sejak kecil, saya ingin menjadi guru dan cita-cita sudah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obsesi saat ini apa?&lt;br /&gt;Secara pribadi, saya ingin menyelesaikan studi saya yang paling akhir yaitu mendapatkan gelar doktor itu, dalam karier saya ingin supaya jadi profesor.&lt;br /&gt;Tapi saya pikir, itu keinginan yang dimiliki oleh semua dosen. Ya, dengan keluarga, saya ingin anak-anak saya berhasil mempunyai pekerjaan yang mapan.&lt;br /&gt;Dalam organisasi, sesungguhnya organisasi tidak menjadi bagian dari cita-cita saya karena saya tidak pernah punya keinginan untuk menjadi ketua umum Pertuni.&lt;br /&gt;Karena itu kan pekerjaan volunteer, sosial dan jadi ketua umum ini karena memenuhi keinginan banyak teman. Artinya, ketika masa jabatan saya berakhir,&lt;br /&gt;saya lebih senang kalau tidak menjabat lagi agar memiliki banyak waktu luang. Sebenarnya obsesi saya menulis. Saya ingin mempunyai banyak waktu untuk menulis&lt;br /&gt;buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang ingin ditulis?&lt;br /&gt;Sekarang saya punya banyak draft. Karena banyak, maka semuanya tidak selesai karena tidak punya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya apa?&lt;br /&gt;Karena saya suka komputer dan saya mengajar komputer, saya sekarang sedang membuat buku pelatihan komputer untuk tuna netra. Selain itu, karena saya merasa&lt;br /&gt;bahwa banyak orang tidak memahami ketunanetraan secara tepat dan buku-buku tentang ketunanetraan yang ada di Indonesia tidak saya sukai, saya sekarang&lt;br /&gt;mencoba menulis buku tentang ketunanetraan. Agar masyarakat punya persepsi yang tepat tentang ketunanetraan. Tapi, ini masih berupa draft awal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-1662035364153556853?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/1662035364153556853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=1662035364153556853' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/1662035364153556853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/1662035364153556853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/didi-tarsidi-menjadi-tuna-netra-bukan.html' title='Didi Tarsidi: Menjadi Tuna Netra Bukan Halangan'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-17793345419065441</id><published>2008-03-14T21:00:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T21:01:52.145-07:00</updated><title type='text'>Wacih, a world-class braille writer</title><content type='html'>By Yuli Tri Suwarni, The Jakarta Post, 4/5/2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Being born blind has posed no barrier to Wacih Kurnaesih, 50, in building her career as a world-class writer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The teacher at Wyata Guna state special school (SLB) for the blind in Bandung discovered the joys of story writing as a hobby, eventually earning her first&lt;br /&gt;place for the Onkyo Braille Essay Award II in 2004. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Through her essay, entitled Achieving success with Braille, Wacih was awarded a US$1,000 prize by the sponsors, Onkyo Co. Ltd., The Braille Mainichi newspaper,&lt;br /&gt;and the World Blind Union -Asia Pacific. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What I wrote was just my personal experience in using braille to make my life easier and to channel my interests," she said humbly. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;She claimed to have finished the 900-word essay in only seven hours. "As it was already in my head, I just turned it into words. I started at 11 a.m. and&lt;br /&gt;finished it at 6 p.m., including breaks for two meals and prayers," she told The Jakarta Post. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As suggested by the title, Wacih wished to convey that the pursuit of progress in life was no different for the blind, despite their disability. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The writing and printing system invented by blind French educator Louis Braille in 1824 has been the key to her success. This Indonesian language high&lt;br /&gt;School teacher has not been chasing money or wealth, however. With her success, she wants to reduce her dependence on other people and express her ideas and feelings&lt;br /&gt;in braille so as to be a benefit to society. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacih was introduced to braille at the age of seven, when she was sent from her birthplace in Sumedang to the Wyata Guna Blind Institution in Bandung,&lt;br /&gt;About 50 kilometers away. Born on April 30, 1954, she mastered braille quickly, mainly due to curiosity. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"My mom used to tell me bedtime stories, which I liked a lot. So I wanted to read the tales in braille," said Wacih, who enjoys reading a wide variety&lt;br /&gt;Of different novels and was thus inspired to write stories of her own. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Braille also made Wacih more confident as a child when playing with her sighted friends during holidays in Sumedang. She would make braille "banknotes"&lt;br /&gt;with ordinary paper, which her peers liked very much. "They might have found it strange playing with 'money' with embossed dots," recalled the mother of&lt;br /&gt;two sighted children, Tommy Rinaldi, 23, and Sendy Nugraha, 21. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;As a teenager, she started writing short stories and poems in braille. The themes were still woven around the tales her mother used to tell, about lucky&lt;br /&gt;children and wealthy, happy kings as well as moral fables. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Later, she became fond of reading romantic novels of such famous writers of the 1970s like Marga T and Ashadi Siregar, which at that time she enjoyed through&lt;br /&gt;the assistance of volunteers who visited the Wyata Guna school to read to her. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was also braille that led to Wacih's success in her entrance test to enroll at the state teacher training school (SPG) in Bandung, which receives mostly&lt;br /&gt;sighted students. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But her most memorable moment was not her admission to SPG. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rather, it was when, in her second year of study around 1972, one of her stories was published in the Suara Karya daily newspaper. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacih said that her first published story, titled "Gara-gara rambut palsu" (All because of a wig), was introduced as the work of a blind student. It was&lt;br /&gt;about a girl wearing a wig that gets caught on something as she was taking a walk with her boyfriend, making her feel embarrassed. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I got Rp 3,000 for my first story, which was quite a lot, because the school fees then were only Rp 100 a month. I spent the remaining money on treating&lt;br /&gt;my friends," she reminisces with a smile. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Her writing skills enabled her to take her study further after graduating, enrolling at the Indonesian Department of Bandung's pedagogic institute (now&lt;br /&gt;the Indonesian Pedagogic University). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Publication of her work boosted her confidence in associating with the 50 other students in her department. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Students there acknowledged her flair for literature by asking her to help them write poetry for their boyfriends. "As a reward, they used to treat me&lt;br /&gt;To a bowl of meatballs," she said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Feeling that her writing had to be read by sighted people, she began learning how to use a manual typewriter. Her ability to type eventually caused her&lt;br /&gt;poems and stories to appear more frequently in the department's magazine. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In 1980, Wacih married her Wyata Guna boyfriend, Didi Tarsidi, who was also born blind. She uses braille for facilitating household routines. "I use braille&lt;br /&gt;paper for kitchen spices to avoid mistakes, and also for documentation of diplomas, awards and civil servant promotion decrees so that I don't have to&lt;br /&gt;ask anybody to find them whenever I need them," she said. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In a writing contest for special school principals throughout Indonesia in 1983, she won a prize for "Pahlawan 5K" (5K Heroes), 3,000 copies of which were&lt;br /&gt;published by Tirta Kencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The book again earned her first place in an SLB teachers' competition organized by the Directorate of Extraordinary Education and published by Balai Pustaka&lt;br /&gt;in 1986. Her other book, "Menuju Kemenangan" (Towards Victory), a story set against the background of Bandung's revolutionary period, can be found in school&lt;br /&gt;libraries all over Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The printing of her books produced royalties, which she used to buy a computer for her husband, Didi, who is now chairman of the Indonesian Association&lt;br /&gt;for the Blind (Pertuni). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The computer is equipped with the Job Access with Speech (JAWS) program, which can read words on the monitor and assisting the blind to become computer-&lt;br /&gt;and Internet-literate. A graduate of the pedagogic institute's English department, Didi also speaks English fluently. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He's a great motivator. He translated my essays that won prizes in contests, and typed them up using the computer," Wacih said proudly. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;With her two children now college students, a supportive spouse, a house and a car, she has almost everything. However, Wacih still has another dream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I would like to see all blind children get the same formal education as that given provided for the sighted -- as I did -- and be allowed to fill jobs&lt;br /&gt;according to their abilities, instead of just working as masseurs as most of them have done so far," she added.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-17793345419065441?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/17793345419065441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=17793345419065441' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/17793345419065441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/17793345419065441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/wacih-world-class-braille-writer.html' title='Wacih, a world-class braille writer'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-1754197047508015738</id><published>2008-03-14T20:58:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T21:00:20.510-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacih Kurnaesih'/><title type='text'>Wacih Kurnaesih Tarsidi: Dalam Kegelapan Rasakan Indahnya Hidup</title><content type='html'>Oleh Uci Anwar, Pikiran Rakyat, 20 Februari 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penderitaan bisa membawa orang mengembara ke dunia imajinasi. "Bukankah orang bilang penderitaan dapat membuat orang mengarang? Begitu juga saya," yakin&lt;br /&gt;Wacih Kurnaesih Tarsidi (51), Sang Juara Lomba Esai antartunanetra se-Asia Pasifik. Penderitaannya bukan karena Wacih tak bisa melihat. Kelas 5 SD, saat-saat&lt;br /&gt;ia masih membutuhkan dekapan kasih sayang ibunda, wanita yang melahirkannya, Enech Hasanah, meninggal dunia. "Sejak kecil hiburan saya satu-satunya adalah&lt;br /&gt;mendengarkan dongeng dari ibu. Mungkin karena terbiasa mendengar dongeng, saya jadi bisa mengarang," kata Wacih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMENJAK ditinggal ibu, Wacih rajin curhat pada buku hariannya. Kebiasaan ini membuatnya piawai menyatukan kata menjadi kalimat-kalimat indah dalam tugas-tugasnya&lt;br /&gt;mengarang di Sekolah Luar Biasa Pajajaran Bandung. Walhasil, sejak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di SLB serta menempuh pendidikan guru di&lt;br /&gt;sekolah umum, SPG 2 Citarum , Wacih selalu menjadi siswa kesayangan guru bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Desember 2004 lalu, ia mendapat penghargaan utama dari The World Blind Union (WBU) Asia Pasifik atas esainya berjudul "Makna Huruf Braile Bagi Tunanetra",&lt;br /&gt;Wacih tidak dalam kondisi menderita. Justru ia sedang berada di puncak-puncak bahagia. Memiliki suami dan anak-anak yang baik itulah kebahagiaannya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Esai yang panjangnya tujuh halaman itu saya kerjakan hanya dalam waktu 6 jam. Saya memang suka SKS, sistem kebut semalam. Itu saya kirimkan pada hari&lt;br /&gt;Terakhir batas lomba ha..ha..ha," ujarnya terkekeh. Selain mengaku suka bekerja di bawah tekanan deadline, kesempatan Wacih menyelesaikan esai itu memang mepet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena suami saya suka mendahulukan tugas-tugasnya, saya baru diberitahu suami tentang adanya lomba esai menjelang hari terakhir lomba." Ceritanya. "Waktu&lt;br /&gt;saya sedang mencuci, suami saya bilang ada lomba esai antarorganisasi tunanetra oleh WBU," suaminya, Didi Tarsidi, juga penyandang tunanetra, selain Ketua&lt;br /&gt;Umum Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni), sejak Desember lalu juga terpilih menjadi Wakil Ketua The World Blind Union untuk Asia Pasifik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Pertuni bukan ia seorang yang mengirimkan esai. Ada 51 esai lainnya yang disaring menjadi 15 dan akhirnya 5 besar. Kelima esai wakil dari Indonesia&lt;br /&gt;ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Didi Tarsidi yang Dosen Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hadiahnya jam tangan ini dan uang," kata Wacih berbinar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT ini Wacih mengajar di SLB A Pajajaran Bandung untuk pelajaran Bahasa Indonesia. Gelar Sarjana Pendidikan diperolehnya dari Universitas Terbuka (UT).&lt;br /&gt;Sedangkan Sarjana Mudanya dari IKIP (kini UPI) Bandung. Sejak SD hingga memperoleh gelar sarjana muda tahun 1978, ia selalu menjadi yang terbaik, paling&lt;br /&gt;tidak kedua terbaik. "Tapi waktu kuliah di UT, karena tidak banyak tatap muka, saya sering ketiduran kalau mendengarkan materi pelajaran dari kaset ha..ha..ha,"&lt;br /&gt;ujar Wacih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman-teman saya baik semua. Mereka sering menjadi reader (pembaca) bagi saya. Di kelas di IKIP ada dua siswa yang selalu menjadi perhatian, yaitu seorang&lt;br /&gt;siswa tugas belajar dari Australia, Helen Bloomfield dan saya, karena saya tunanetra."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Helen, Wacih merasa berutang budi tak terhingga. Bule satu ini mengajarkan trik membaca buku pelajaran. "Ia bilang tak perlu baca seluruhnya, inti-intinya&lt;br /&gt;saja yang pasti keluar kalau ujian. Dan ia benar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bukan karena ajaran Helen ia hanya membaca 2 buku dari 12 buku wajib yang dianjurkan harus dibaca oleh dosennya. Karena tak ada bacaan berhuruf braile,&lt;br /&gt;tentu saja ia mengandalkan bantuan teman-temannya untuk membacakan buku baginya. "Sebuah buku saja berhalaman ratusan. Jadi sudah cukup dibacakan 2 buku&lt;br /&gt;saja," kata Wacih. Keterbatasannya tak menjadikan halangannya untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Tak sia-sia Ketua Jurusan Bahasa Indonesia waktu itu&lt;br /&gt;terjun langsung mengetes Wacih saat ia akan masuk ke IKIP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, belum memakai sistem penerimaan mahasiswa baru. Cukup di tes saja. Saya dites oleh ketua jurusan lebih dari 100 soal secara lisan. Alhamdulillah&lt;br /&gt;Saya bisa jawa dengan baik. Cuma yang jadi kendala saat itu bagaimana kelak saya menghadapi pelajaran bahasa Kawi dan Sanskerta. Kalau bahasa Arab ada bacaan&lt;br /&gt;brailenya, yang dua itu tidak," katanya. Tetapi Wacih pintar. "Saya dengarkan baik-baik kata demi kata, lalu saya tirukan saja sebisa-bisanya. Alhamdullilah&lt;br /&gt;semua pelajaran tak pernah tidak lulus," &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati memiliki keterbatasan fungsi indra melihatnya, Wacih tak pernah mengasihani diri sendiri. Berbincang dengan Wacih serasa berbincang dengan teman&lt;br /&gt;lama. Ia memiliki segudang joke yang menunjukkan sense of humor yang tinggi. "Jika di sekolah saya pendiam dan perasa. Tapi kalau di asrama, aduh saya&lt;br /&gt;paling heboh menurut teman-teman," katanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacih asli Sumedang. Namun sejak kelas 1 SD ibu dan ayahnya, Haris (alm.) mengirimnya ke Asrama Tunanetra Wiyataguna. Sejak kecil ia sudah dikenal supel&lt;br /&gt;dan kreatif. Wacih dijuluki "Si Raja Duit" karena menciptakan uang-uangan dari kertas dengan tulisan braile sebagai penanda angka nominalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena saya suka menghitung uang, makanya saya dipilih jadi Bendahara Koperasi Pertuni," katanya sambil tertawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KETUNANETRAAN tak pernah membuatnya minder. Ia bahkan menghargai kehidupan yang penuh warna ini. Namun satu kali ia sempat mengkhawatirkan perasaan anaknya.&lt;br /&gt;Saat anaknya Tommy Rinaldi kelas 5 SD, guru kelasnya meminta orang tua yang mengambil rapornya. Ketika Wacih mengajukan seorang kakaknya untuk mengambilkan&lt;br /&gt;rapor, Tommy menolaknya."Kan uwak bukan orang tua Ma, kata Tommy. Oo, ternyata ia tidak malu membawa saya," kenang Wacih terharu. Maka pergilah ia ke SD&lt;br /&gt;Mohammad Toha Bandung dituntun Tommy. Karena jalannya lambat, banyak orang merasa terhalangi, namun serta-merta memakluminya dengan mengatakan "Oh, paingan&lt;br /&gt;teu ningal, kata orang. Langsung Tommy menegur..Eh! " ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini pun kedua anaknya yang lahir dengan karunia indra mata yang sehat, tak segan-segan mengenalkan pacar-pacar mereka pada ibundanya. Tommy Rinaldi&lt;br /&gt;(23) dan Shandy Nugraha (22), masing-masing mahasiswa Geologi Universitas Padjadjaran dan Universitas Islam Bandung. Walaupun kini Wacih punya sopir pribadi,&lt;br /&gt;kedua anaknya ini rajin mengantarnya ke mana-mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya pernah sedih sekali waktu baru punya anak satu. Waktu itu Tommy baru 9 bulan. Ketika saya gendong mainannya jatuh. Ya saya lepaskan dia dari gendongan,&lt;br /&gt;untuk mencari mainannya yang jatuh," kenang Wacih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bersama suaminya, Wacih tak menyesali nasib. Mereka berperan maksimal sebagai orang tua. Mereka mengajarkan kemandirian bagi putra-putranya. Karena&lt;br /&gt;keduanya sibuk bekerja mereka terpaksa mempekerjakan pembantu rumah tangga. Namun agar kedua anaknya tidak bergantung pada pembantu, sejak Tommy dan Shandy&lt;br /&gt;kelas 5 dan 3 SD, pembantu dihentikan. "Mereka sudah bisa naik angkot pulang pergi ke sekolah." Tenaga pembantu rumah tangga dibutuhkan memang hanya untuk&lt;br /&gt;mengantar mereka sekolah. Semua pekerjaan rumah dilakukan Wacih. Mulai dari mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, hingga memasak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembantu sering berganti-ganti. Sayalah yang mengajarkan pembantu memasak," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacih pandai memasak. Untuk merasakan tahu goreng sudah saatnya di balik, ia bisa merasakan kulit tahu yang mengeras di ujung sendok pembalik selain dari&lt;br /&gt;keharumannya. "Untuk kita yang tunanetra memasak itu gampang, yang penting tidak takut api," jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumahnya di Jalan H.Kurdi Baru II No. 17 Bandung, tampak rapi dan bersih. Perempuan penyuka bunga ini memajang beberapa bunga plastik di pojok-pojok rumahnya.&lt;br /&gt;Sejak menikah, mereka langsung mendiami rumah mungil ini. Didi membeli rumah itu 3 bulan sebelum mereka menikah. Wyataguna adalah tempat kenangan mereka.&lt;br /&gt;Didi adalah teman main sejak kecil karena sama-sama tinggal di asrama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya Wacih juga sering mendapat penghargaan sebagai penulis cerita anak dari Dirjen Pendidikan. Salah satunya cerita tentang "Pahlawan 5 K" yang&lt;br /&gt;Meraih perhargaan Juara I mengarang guru dan kepala SLB. "Waktu mengambil hadiahnya di Jakarta saya menggendong Tommy yang baru 3 bulan. Untung panitianya baik&lt;br /&gt;saya boleh bawa anak," katanya. Ia juga merasakan kerepotan laiknya ibu-ibu rumah tangga yang lain. Karena KB gagal, usia kedua anaknya bertaut dekat.&lt;br /&gt;"Biar ada pembantu, saya utamakan mengurus mereka. Dari bayi saya yang memandikan mereka. Untung saya punya suami yang luar biasa baik. Selalu menolong&lt;br /&gt;pekerjaan rumah tangga," pujinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum cukup dengan kesibukannya sebagai pengajar, Wacih juga masih rajin berjualan baju. "Saya kreditkan baju-baju dagangan ke teman-teman. Tapi saya suka&lt;br /&gt;pilih-pilih yang sesuai selera saya. Kalau tak laku ya saya pakai ha..ha..ha" katanya tentang trik dagangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wacih punya selera yang baik dalam berpakaian. Ia sendiri yang memilih model dan bahan baju yang akan dijahit. Terkadang ia membeli jadi. "Saya baru berkerudung&lt;br /&gt;selama tiga tahun ini. Banyak teman-teman saya membujuk, katanya saya sudah baik , tinggal pakai kerudungnya saja he..he..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia memilih baju dengan meraba bahannya. "Jika saya suka, saya tanya pedagangnya punya warna apa. Saya suka warna biru, ungu dan merah," ujar Wacih saat&lt;br /&gt;diwawancara mengenakan busana muslim serba biru termasuk kerudungnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sejak lahir tak melihat, ia sendiri tak tahu definisi biru itu. Namun ia meyakini ia suka warna tersebut. Dengan penampilan sore itu, ia memang&lt;br /&gt;Pantas dalam kemasan biru. "Waktu bapak pulang dari Cape Town (Afrika Selatan) untuk mengambil hadiah saya, katanya di sana ada peralatan yang bisa untuk membedakan&lt;br /&gt;warna. Kalau alat itu disentuhkan pada benda berwarna biru maka alat itu akan bilang blue..blue..blue. Tapi kata bapak mahal," ujar Wacih yang suka jalan-jalan&lt;br /&gt;ke mal ITC Bandung untuk berbelanja.***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-1754197047508015738?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/1754197047508015738/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=1754197047508015738' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/1754197047508015738'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/1754197047508015738'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/wacih-kurnaesih-tarsidi-dalam-kegelapan.html' title='Wacih Kurnaesih Tarsidi: Dalam Kegelapan Rasakan Indahnya Hidup'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-7705058061748151754</id><published>2008-03-14T20:56:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T20:58:18.465-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Didi Tarsidi'/><title type='text'>DIDI TARSIDI, SEMANGAT JUANG DAN KEARIFAN TUNANETRA</title><content type='html'>Oleh Indira Permanasari, Harian KOMPAS, 15-02-2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIANG itu, di tempat tinggalnya di bilangan Muhammad Toha, Bandung Selatan, Didi memperlihatkan berbagai pekerjaan yang dapat dilakukan bersama komputer&lt;br /&gt;dengan program khusus bagi penyandang tunanetra. Program itu menggunakan suara, bukan tanda visual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didi menggunakan teknologi tersebut untuk menyelesaikan pendidikan masternya. Benda itu menolongnya pula menjalankan tugas sebagai dosen program sarjana&lt;br /&gt;dan pascasarjana di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Teknologi itu juga membantu dia sebagai Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni),&lt;br /&gt;atau saat harus menyusun makalah jika diminta menjadi pembicara di berbagai forum internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tahun 2004 saja, Didi bisa mengunjungi sekitar enam negara untuk menjadi pembicara. Terlebih lagi sejak Desember tahun lalu dia terpilih sebagai&lt;br /&gt;Wakil Presiden The World Blind Union untuk Asia Pasifik. Didi membuktikan bahwa "kegelapan" tak menghalangi langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia lebih banyak persamaan daripada perbedaannya. Perbedaan itu sama saja dengan orang pendek dan tinggi. Mungkin Anda harus menggunakan komputer&lt;br /&gt;dengan bantuan mata, sementara saya dengan bantuan pendengaran. Tapi hasilnya sama. Tunanetra harus menyikapi kondisi yang disandangnya bukan penghambat&lt;br /&gt;terbesar," kata Didi di rumahnya yang sederhana tapi bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran itu umumnya timbul setelah banyak berinteraksi. Itu pula yang membuat Didi sebagai pendidik getol menganjurkan pendidikan inklusi, yakni anak&lt;br /&gt;berkebutuhan khusus bersekolah di sekolah umum dalam berbagai forum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tesisnya untuk meraih master di bidang pendidikan luar biasa, yakni peranan teman sebaya di dalam perkembangan anak tunanetra, dia percaya teori&lt;br /&gt;bahwa teman sebaya berperanan besar dalam perkembangan anak. Jika sejak awal anak tunanetra bergaul dengan teman sebayanya, maka perkembangannya pada masa&lt;br /&gt;dewasa lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap orangtua, kata Didi, sangat memengaruhi. Kalau orangtua menerima ketunanetraan anaknya, maka anak diberi kesempatan bergaul dengan sebayanya. Atau&lt;br /&gt;sebaliknya, kalau mereka memandang anaknya sebagai orang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LAHIR di Sumedang, 1 Juni 1951, Didi mendapatkan pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) A Bandung, Jalan Pajajaran, sejak tingkat dasar hingga menengah&lt;br /&gt;pertama. Penglihatannya hilang sejak usia lima tahun karena suatu infeksi. "Saya berkembang sebagaimana anak umumnya. Saya belajar tulisan braille, seperti&lt;br /&gt;anak lain belajar tulisan biasa," paparnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia melanjutkan ke sekolah pendidikan guru (SPG). Ujarnya, "Saya bergaul dengan orang yang tidak banyak mengenal tunanetra. Itu jembatan bagi saya belajar&lt;br /&gt;bersama dengan anak yang dapat melihat dan bermasyarakat lebih luas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat masuk UPI (dulu namanya masih IKIP Bandung) Jurusan Bahasa Inggris, tahun 1973, ia satu-satunya tunanetra di angkatannya. Didi &lt;br /&gt;berkeyakinan, pada hakikatnya manusia berhati baik. Terbukti, lama kelamaan sikap warga kampus kepadanya bertambah baik, seiring dengan semakin mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang baru, kesulitan awal ialah berorientasi dengan lingkungan. "Di IKIP saya pernah kecebur selokan karena tidak &lt;br /&gt;terorientasi dengan baik. Tentu pengalaman yang tidak enak, tetapi saya melihatnya sebagai proses," kenangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesulitan lainnya adalah mengakses papan tulis. Perlahan kendala itu terjembatani. Dosen mulai ikut memperhatikan. Misalnya, waktu menulis di papan sekaligus&lt;br /&gt;mengucapkan apa yang dituliskan. Perkembangan teknologi juga membantu tunanetra mengatasi kesulitannya. Mulai dari buku braille, perekam suara, video compact&lt;br /&gt;disc hingga belakangan ada software komputer khusus penyandang tunanetra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menempuh gelar master Didi semakin mandiri. Dia menggunakan komputer dan scanner untuk membaca buku teks. Begitu teks masuk bisa diakses dengan komputer&lt;br /&gt;berprogram khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kemudian, dia berhasil menjadi pengajar di UPI Bandung. Untuk program sarjana dia mengajar ortopedagogik (ilmu pendidikan luar biasa), braille,&lt;br /&gt;orientasi mobilitas serta bahasa Inggris. Di program pascasarjana, Didi mengajar pengantar pendidikan inklusif dan pengembangan kesadaran masyarakat. Sebagian&lt;br /&gt;besar mahasiswanya dapat melihat dan beberapa di antaranya tunanetra. Dia selalu menyiapkan handsout untuk disajikan dengan overhead atau powerpoint. Handsout&lt;br /&gt;dalam huruf braille bagi Didi, sedangkan mahasiswa dalam tulisan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;LEWAT kehidupan keluarganya, Didi juga bersaksi bahwa tunanetra bukan warga kelas dua. Istri Didi juga seorang tunanetra bernama Wacih dan kini menjadi&lt;br /&gt;guru bahasa Indonesia di sebuah sekolah luar biasa. Wacih mengenyam pendidikan hingga tingkat sarjana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Didi, Wacih sangat istimewa, termasuk masakannya. "Wacih pandai memasak apa saja, menggoreng sampai merebus. Dia tahu persis kapan tahu dan tempe&lt;br /&gt;sudah harus dibalik dan cara membalikkannya. Itu saya tidak akan bisa," kata Didi sambil tertawa kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari perkawinannya tersebut, lahir dua buah hati dengan penglihatan sempurna, yakni Tommy Rinaldi (23) yang kuliah di Jurusan Biologi Universitas Padjajaran&lt;br /&gt;(semester akhir), dan Sandy Nugraha (21) yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Pasundan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didi dan Wacih banyak menggunakan kontak fisik dan audio dengan anak mereka. Keduanya bergantung pada perabaan dan pendengaran. Satu hal yang sangat dijaga&lt;br /&gt;ialah kebersihan anak-anak sewaktu kecil. "Kalau anak kami tampak kotor, orang akan mengatakan, anak orang gak liat sih. Padahal, anak pada umumnya bisa&lt;br /&gt;kotor karena suka bermain," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria penggemar musik jazz itu lalu bercerita, anak-anaknya ketika kecil berpersepsi seolah Didi dan Wacih melihat dengan tangan. "Saya ingat ketika Tommy&lt;br /&gt;menggambar saat berumur dua tahun. Dia bilang, "Paà Pa... ini gambar perahu orang mancing." Lalu dia ambil tangan saya dan dia rabakan, "Ini perahunyaà&lt;br /&gt;ini orangnya." Lalu saya tanyakan, ikannya mana? Ternyata belum ketangkap ha-ha-ha," ungkap Didi geli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dewasa, kedua anak mereka tersebut menjadi sahabat bagi orangtuanya. Mereka tidak memandang ketunanetraan sebagai suatu yang asing. Demikian pula&lt;br /&gt;seharusnya kita.@&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Indira Permanasari&lt;br /&gt;Tulisan Dimuat&lt;br /&gt;Harian KOMPAS, 15-02-2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-7705058061748151754?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/7705058061748151754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=7705058061748151754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/7705058061748151754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/7705058061748151754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/didi-tarsidi-semangat-juang-dan.html' title='DIDI TARSIDI, SEMANGAT JUANG DAN KEARIFAN TUNANETRA'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1449237073599490388.post-8127214787116920415</id><published>2008-03-14T20:52:00.000-07:00</published><updated>2008-03-14T20:54:52.960-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Wacih Kurnaesih'/><title type='text'>Wacih Kurnaesih Tarsidi: Meraih Sukses dengan Braille</title><content type='html'>Oleh Dwi Wiyana, Koran Tempo, 7 January 2005 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah menyerah pada keterbatasan. Ny. Wacih Kurnaesih Tarsidi, 50 tahun, paham betul dengan semangat di balik kata-kata tersebut. Sebab itu, penyandang&lt;br /&gt;tunanetra sejak kecil ini tak pernah patah semangat dalam menjalani hidup. Anak pasangan almarhum Haris dan Ny. Neh Hasanah ini yakin Allah akan memberikan&lt;br /&gt;kemudahan di balik keterbatasan fisik yang dimilikinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kemudian hari, keyakinan itu memang terbukti. Sejumlah prestasi dapat diraih oleh ibu dua anak ini. Prestasi terbaru, istri Didi Tarsidi, 53 tahun,&lt;br /&gt;ini menyabet Excellent First Prize pada Ongkyo Braille Essay Contest (International Section) se-Asia Pasifik, akhir Oktober lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyisihkan puluhan peserta dari 12 negara. Penghargaan atas prestasinya itu diterima suaminya, Didi--yang juga Ketua Umum Persatuan Tunanetra Indonesia--dalam&lt;br /&gt;acara konferensi "World Blind Union Asia Pacific", di Cape Town, Afrika Selatan, pada 5-10 Desember lalu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Atas dorongan suami, saya coba-coba ikut lomba itu, dan ternyata menang," kata Wacih, saat ditemui di rumahnya, Rabu (5/1) sore. Dalam lomba itu, tema&lt;br /&gt;yang disodorkan panitia adalah "Makna Braille bagi Tunanetra". Lalu, pengajar tingkat SMP dan SMA di Sekolah Luar Biasa Negeri A (untuk tunanetra) di Jalan&lt;br /&gt;Padjadjaran, Bandung, itu menuangkan tema itu dalam esai bertajuk "Meraih Sukses dengan Braille". Tentu saja, judul itu bukan sembarang judul. Sebab, Wacih&lt;br /&gt;sudah merasakan sendiri manfaat--juga meraih sukses--dari huruf-huruf Braille itu. Ia bisa membaca, menulis, dan mengarang, semuanya dalam huruf Braille.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, untuk dilombakan di tingkat Asia-Pasifik, esai Wacih dan empat naskah lain dari Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Didi.&lt;br /&gt;Dalam urusan ini, suami Wacih itu sama sekali tidak mengalami kesulitan. Maklum, ia adalah sarjana bahasa Inggris dari IKIP Bandung--sekarang Universitas&lt;br /&gt;Pendidikan Indonesia. Dalam proses ini, keberadaan komputer dengan software Jaws50 di rumah Didi sangat membantu. Sebab, perangkat lunak yang bisa mengeluarkan&lt;br /&gt;suara saat keyboard komputer ditekan--juga bisa membaca tulisan di layar komputer--menjadi pemandu brilian dalam pengetikan huruf demi huruf sehingga terlepas&lt;br /&gt;dari kesalahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, selain memenangi Ongkyo Braille Essay Contest, sejumlah kejuaraan lain pernah disabet Wacih. Antara lain, pada 1983, ia meraih juara pertama&lt;br /&gt;sayembara mengarang guru-guru SLB se-Indonesia. Karangannya bertajuk Pahlawan Lima K sudah dibukukan dan diedarkan untuk umum dalam huruf-huruf Latin.&lt;br /&gt;Pada 1986, kemenangan yang sama diraihnya. Kali ini, karangannya--juga dibukukan--berjudul Perjalanan Menuju Kemenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, gara-gara kemenangan yang berulang itu, panitia sempat melarang Wacih ikut sayembara serupa pada tahun berikutnya. "Mungkin, untuk pemerataan (pemenang),"&lt;br /&gt;kata Wacih sembari tersenyum. Sarjana bahasa Indonesia Universitas Terbuka, yang juga menulis buku bertajuk Matahari Bersinar Lagi (1985) dan Menuju Kemenangan&lt;br /&gt;(1995), ini pun tak keberatan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1449237073599490388-8127214787116920415?l=wacih.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://wacih.blogspot.com/feeds/8127214787116920415/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1449237073599490388&amp;postID=8127214787116920415' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/8127214787116920415'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1449237073599490388/posts/default/8127214787116920415'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://wacih.blogspot.com/2008/03/wacih-kurnaesih-tarsidi-meraih-sukses.html' title='Wacih Kurnaesih Tarsidi: Meraih Sukses dengan Braille'/><author><name>Didi Tarsidi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/06920295352573024582</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='26' src='http://1.bp.blogspot.com/_C2SHqvtqhSU/SfZcrJuAefI/AAAAAAAAAAw/cT9WZ0piHxM/S220/SBY%26Me.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
